Minggu, 07 Juni 2015

Terapis Terbaik untuk Anak dengan Disabilitas Adalah Keluarga


Jakarta, Anak dengan Disabilitas (AdD) bisa disebut sebagai hidden population. Sebab, mereka dekat dengan penelantaran, kekerasan, dan diskriminasi yang terjadi karena adanya stigma dari masyarakat yang berdampak pada perilaku keluarga.

Apalagi, kebanyakan program untuk AdD berupa charity, demikian diutarakan Wiwied Trisnadi selaku Project Manager Save The children/IKEA Foundation. Terkait pendidikan, sekolah yang siap menerika AdD pun terbatas ditambah kapasitas guru dan terjadinya bullying dari sesama siswa.

"Belum lagi persepsi bahwa anak dengan disabilitas tidak bisa apa-apa. Padahal, anak bisa dilatih kok dan mereka pasti punya kemampuan yang menjadi kelebihan bagi masing-masing anak," tegas Wiwied di sela-sela temu media 'Save the Children: Equal Rights Equal Opportunities' di Bebek Bengil Resto, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (9/12/2014).

"Terapis terbaik untuk AdD adalah keluarga. Sebab, tenaga profesional jarang punya rasa kasih sayang seperti keluarga, terutama orang tua. Meski orang tua skillnya terbatas tapi anak bisa berkembang karena ada rasa kasih sayang, sehingga telaten dan sabar dan anaknya bisa berkembang," papar Wiwied.

Sayangnya ada hambatan yakni keterbatasan keluarga atau pengasuh dalam memberi layanan yang berkualitas bagi anak. Selain itu, khususnya di Indonesia, banyak anak yang tinggal di wilayah yang sulit dijangkau. Berangkat dari hal itu, organisasi non-profit dunia, Save The Children bekerja sama dengan berbagai pihak termasuk pemerintak mendirikan Rehabilitasi Berbasis Masyarakat (RBM).

Layanan berbasis keluarga bagi anak dengan disabilitas di Indonesia diadakan di 6 kabupaten/kota di Jawa Barat yaitu Kota Bandung, Cimahi, Kabupaten Bandung Barat, Sumedang, Garut, dan Kabupaten Bandung sejak 1 Juli 2012.

Bagi keluarga, program ini ditujukan untuk membangun komunikasi antar keluarga dan menghubungkan keluarga ke semua layanan seperti terapis, pemerintah daerah, atau keluarga lain yang juga memiliki anak dengan disabilitas. Dilakukan juga kampanye pada masyarakat guna menghapus stigma pada AdD, serta diadakan kerja sama dengan pemerintah.

"Dilakukan pula pendidikan inklusi dengan mengubah paradigma pada guru, orang tua, dan pemerintah bahwa bagaimana semua anak dengan kondisi berbeda mendapat evaluasi, pengajaran, dan kurikulum yang disesuaikan dengan kebutuhan anak," tutur Wiwied.

Selain itu, orang tua juga diberi pelatihan untuk memberi terapi pada anak. Misalnya pada anak yang sulit berjalan, diberi pelatihan untuk melenturkan kaki anak dan melatih si kecil berjalan. Tak hanya itu, orang tua juga disorong untuk berpartisipasi dalam proses pendidikan. Selama berjalannya program ini, sebanyak 2.875 anak di RBM mendapat layanan rutin RBM. Kemudian, 436 AdD sudah bisa mendapat akses di sekolah reguler dan telah diadakan pelatihan kepada 2.650 orang tua atau pengasuh.


#SEFT
 Spiritual Emotional Freedom Technique

#SEFT membantu Sahabatku mengatasi masalah emosi dan fisik.

#SEFT
(Spiritual Emotional Freedom Technique)
Total Solusi
mengatasi masalah emosi dan fisik Anda

Informasi
Training, Terapi dan Konsultasi SEFT
Endang Swastyaskuningsih, MPd., SHT
0816 1928 845 / 2A31E6F1

Studi: Sering Dihukum Saat Berbohong, Anak Justru Makin Tidak Jujur


Jakarta, Apa yang biasa orang tua lakukan ketika sang anak melakukan kesalahan? Ya, jawaban umum yang dilontarkan adalah menghukum si anak. Termasuk juga ketika anak berbohong. Padahal, terlalu sering menghukum anak justru membuat si kecil jadi anak yang tidak jujur lho.

Sebuah studi baru-baru ini menemukan bahwa hukuman justru membuat anak tidak mau mengatakan kebenaran. Hal ini terjadi karena kekhawatiran anak justru ketika dia mengatakan hal yang sebenarnya, ayah atau ibu justru akan menghukum mereka.

Prof Victoria Talwar dari McGill's Dept. of Educational and Counseling Psychology dan koleganya melakukan studi terhadap 372 anak usia 4-8 tahun. Mereka dibiarkan sendiri di ruangan dengan kamera CCTV dan sebuah mainan di belakang meja.

Selama 1 menit, anak tak diperbolehkan memegang mainan tersebut. Kemudian, peneliti menanyakan ketika di ruangan itu, apakah si anak mengintip mainan tersebut. Hasilnya, 67,5% anak mengintip mainan itu. Anak yang berusia lebih tua lebih sedikit mengintip mainan.

Sebanyak 66,5% anak yang mengintip juga berbohong. Pada anak dengan usia lebih tua, mereka akan lebih baik menyembunyikan kebohongannya. Dikatakan Prof Talwar yang menarik adalah anak-anak takut mengatakan kebenaran karena tak ingin dihukum.

"Justru ketika mereka percaya memberi tahu kebenaran bisa dimaafkan oleh orang dewasa atau yakin yang dilakukan itu benar, anak-anak akan berbicara jujur," tutur Prof Talwar dalam laporannya di Journal of Experimental Child Psychology. dan dikutip pada Minggu (14/12/2014).

Anak berusia lebih muda juga lebih fokus mengatakan kebenaran untuk mendapatkan maaf dari orang dewasa. Sedangkan, anak yang lebih tua lebih suka mengatakan hal yang benar karena memang mereka yakin itu adalah yang tepat dilakukan. Oleh karena itu, Prof Talwar menegaskan bahwa mengancam anak dengan memberinya hukuman justru tidak akan membuat ia berkata jujur.

"Justru dengan tidak mengancam akan menghukum anak akan lebih terbuka dan jujur pada kita. Tapi bukan berarti juga anak dibiarkan melakukan hal yang tidak tepat. Ketika mereka berbuat salah, beri tahu apa yang dilakukan tidak tepat dan arahkan anak ke hal yang semestinya," terang Prof Talwar.



#SEFT
(Spiritual Emotional Freedom Technique)
Total Solusi
mengatasi masalah emosi dan fisik Anda

Informasi
Training, Terapi dan Konsultasi SEFT
Endang Swastyaskuningsih, MPd., SHT
0816 1928 845 / 2A31E6F1

Idfi, Tetap Tegar Meski Kehilangan Kaki Kanannya karena Osteosarkoma

Jakarta, Saat duduk di kelas 1 SMA, Idfiani Syawallia (17) pernah melakukan olahraga atletik dan terjatuh. Sempat diurut karena dianggap keseleo, kaki Idfi membengkak hingga akhirnya ia diketahui terkena jenis kanker tukang osteosarkoma.

Putri pasangan Neijfie (46) dan Satrio Wibowo (43) ini mengatakan sebenarnya sejak kelas 2 SMP pahanya sering terasa pegal. Tapi, kala itu Idfi berpikir pegal di kakinya muncul karena terlalu sering berjalan kaki. Barulah, nyeri di paha Idfi tak tertahankan berbarengan dengan jatuhnya Idfi saat berolahraga atletik.

"Waktu lagi atletik kepeleset terus dipikir keseleo, bengkak. Abis itu diurut, seminggu setelahnya makin gede, digeser dikit aja nyeri banget, paha kanan nyut-nyutan. Ngerinya tulang saya geser atau retak gitu," kisah Idfi, ditemui detikHealth di rumah Anyo, Jl Anggrek Neli Murni, Slipi, Jakarta Barat dan ditulis pada Sabtu (6/6/2015).

Baca juga: Demi Sang Ayah yang Sakit Kanker, Gadis Ini Lakukan 'Latihan' Pernikahan

Idfi pun menjalani rontgen dan dikatakan ibu Idfi, Neijfie, 'penampakan' tulang putrinya itu keropos seperti dimakan rayap. Setelah pergi ke klinik, Idfi diminta cek ke dokter orthopedi di RS Persahabatan. Untuk memastikan, biopsi pun dijalani Idfi hingga hasilnya menunjukan gadis kelahiran 29 Januari 1998 itu positif terkena osteosarkoma stadium 4. Pada bulan November 2013, dokter menyarankan Idfi untuk menjalani amputasi.

Namun Idfi menolak untuk diamputasi. Selama bulan Januari hingga Februari 2014, Idfi justru menjajal pengobatan alternatif. Alih-alih membaik, kaki Idfi malah makin bengkak hingga dikatakan Neijfie, ukuran kaki putrinya itu sebesar balon. Tak hanya itu, Idfi juga mulai tidak bisa duduk karena pinggangnya terasa nyeri. Khawatir terjadi apa-apa, orang tua Idfi segera mengurus kepesertaan BPJS hingga Idfi mendapat rujukan dari RS Budi Asih ke RS Dharmais.

"Kita berangkat jam setengah 2 siang nyampe Dharmais Maghrib. Sampai sana nunggu di IGD. Mau pulang, cari angkutan susah. Mending kalau Idfi bisa naik angkot, ke mobil aja kita bopong karena udah nggak bisa bangun. Sedangkan, besoknya kita harus ke dokter onkologi, jadinya waktu itu nginep aja di RS," kata Neijfie.

Setelah berkonsultasi dengan dokter onkologi anak, Idfi pun setuju menjalani amputasi. Setelah kondisinya membaik, pada Juli 2014, kaki kanan Idfi diamputasi. Pasca operasi, ia masih harus menjalani kemoterapi enam kali. Selama kemoterapi, muntah hingga rambut rontok juga dialami siswa SMA YP IPPI Cakung ini.

Rampung kemoterapi di bulan Januari 2015, Idfi menjalani CT Scan di bulan Febrauri. Hasil CT Scan menunjukkan sel kanker sudah menyebar di paru-paru kanan Idfi. Ia kemudian diminta melakukan tes toraks. Namun, kala itu hasil toraks Idfi dinyatakan bersih. Akhirnya, dokter meminta Idfi menunggu 3 bulan untuk menjalani tes toraks ulang. Bulan Mei lalu, hasil tes toraks lagi-lagi menyatakan paru-paru Idfi bersih.

Baca juga: Diduga Cari Perhatian, Wanita 25 Tahun Pura-pura Sakit Kanker Stadium Akhir

"Karena dibilang nggak apa-apa saya sempat pulang ke Cakung 2 minggu. Di rumah, saya pilek terus batuk keluar darah, punggung sakit. Rabu (3/6) kemarin tes toraks lagi ternyata sel kanker yang awalnya 0,9 mm udah membesar. Dokter bilang saya harus operasi bedah toraks satu lobus," papar Idfi.

Senin (8/6) mendatang, ayah Idfi akan bertemu dokter untuk merencanakan kapan bedah toraks akan dilakukan. Saat ini, Idfi mengaku ia hanya ingin fokus untuk sembuh dan sehat agar bisa melanjutkan sekolahnya lagi. Dukungan dari sang bunda, ayah, keluarga, dan orang di sekitarnya membuat Idfi selalu tegar menghadapi segala hal yang ia alami.

Kini, dalam keseharian, Idfi menggunakan kursi roda meskipun sebelumnya ia menggunakan tongkat. Sebab, lengan sebelah kanan Idfi agak sulit untuk digerakkan dan terasa nyeri jika terlalu lama harus menopang tongkat. Neijfie sendiri mengaku selalu mendukung putrinya itu.

"Yang penting kita jalani terus, berusaha. Gimana nanti hidup udah ada yang ngatur. Semua udah ada waktunya. Bukan berarti kita sakit pasti terus meninggal kan. Kalau sedih, pasti sedih, siapa sih yang nggak sedih kaki udah diambil satu, sekarang paru-paru juga harus dioperasi. Dibilang nerima sih ya nggak nerima tapi kita berdoa yang penting dapat yang terbaik," kata Neijfie.

Nah, bagi pembaca yang ingin menyalurkan bantuan untuk Idfi dan pasien kanker anak lainnya, Anda bisa bertandang langsung ke rumah Anyo di Jl Anggrek Nelli Murni Blok A/110, Slipi, Jakarta Barat, no telp 021-5346529. Atau, bantuan bisa disalurkan melalui rekening di nomor 1640000582421 (bank Mandiri) dan 0845244010 (bank BCA) atas nama Yayasan Anyo Indonesia.

Kesadaran Terhadap Penyakit ALS di Indonesia Masih Minim

Jakarta, Siapa yang masih ingat dengan demam Ice Bucket Challenge? Gerakan tersebut mengkampanyekan penyakit Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS) dan sempat menyita perhatian banyak orang di luar negeri. Sayangnya di Indonesia hal serupa tak terjadi sehingga orang-orang masih minim kesadarannya terhadap penyakit ini seperti dikatakan dokter.

ALS adalah penyakit yang menyerang sistem motorik saraf sehingga penyandangnya perlahan akan kehilangan kemampuan otot dan jadi lumpuh. Stephen Hawking adalah salah satu contoh tokoh terkenal yang mengidapnya.

dr Sheila Agustini, SpS, dari Mayapada Hospitals mengatakan kesadaran ALS di Indonesia masih minim. Hal ini bisa dilihat dari kenyataan belum ada data dari jumlah pengidap penyakit tersebut sampai sekarang.

"Kalau di luar negeri sudah banyak informasi mengenai hal ini dan ada organisasinya juga. Kalau di Indonesia yang seperti ini belum ada jadi pasien juga enggak tau kemana harus cari informasi," kata dr Sheila dalam acara seminar ALS di Mayapada Hospitals, Lebak Bulus, Jakarta Selatan, Sabtu (6/6/2015).

Baca juga: Aktor Terbaik Oscar 2015 Dedikasikan Penghargaan untuk Pengidap ALS

"Indonesia belum punya data epidemiologi yang jelas. Kalau stroke kita ada pencatatan data, tapi untuk ALS tidak karena belum banyak diketahui dan karena mungkin diagnosanya sulit juga," lanjutnya.

Data secara global dikatakan oleh dr Sheila bahwa ALS memengaruhi sekitar 2 dari 100 ribu orang. Di Amerika prognosisnya lebih sering lagi sekitar 5.600 per tahun atau 15 kasus setiap hari.

"Ya mungkin itu alasannya kenapa di luar penyakit ini terkenal," ujar dr Sheila.

Penyebab ALS hingga saat ini masih belum diketahui dan belum ada obat yang bisa menyembuhkannya. Penyandang hanya bisa diupayakan agar tetap bisa memiliki kualitas hidup yang baik.

http://health.detik.com/read/2015/06/06/130359/2935109/763/kurang-tenar-kesadaran-terhadap-penyakit-als-di-indonesia-masih-minim

"Membentak Bisa Ganggu Tumbuh Kembang Anak"


#SEFT
(Spiritual Emotional Freedom Technique)
Total Solusi
mengatasi masalah emosi dan fisik Anda

Informasi
Training, Terapi dan Konsultasi SEFT
Endang Swastyaskuningsih, MPd., SHT
0816 1928 845 / 2A31E6F1
Membentak anak ternyata memiliki efek negatif yang berat. Pakar mengatakan anak yang sering dibentak oleh orang tua kemungkinan besar akan mengalami gangguan tumbuh kembang.


Ketua Dewan Pembina Komisi Nasional Perlindungan Anak, Seto Mulyadi, mengatakan membentak dapat merusak anak. Kerusakan yang terjadi bisa bertahan hingga anak remaja bahkan dewasa.

"Anak-anak itu kan sedang dalam masa tumbuh kembang, artinya saraf-saraf di otaknya juga belum sempurna karena masih dalam tahap pengembangan. Ketika dibentak dengan suara keras itu anak akan terguncang, yang otomatis akan merusak sistem sarafnya," tutur pria yang akrab disapa Kak Seto tersebut, ditemui di sela-sela bedah buku Dari Cakalang Pais sampai Cabe-cabean, di Gedung Enerindo, Jakarta Pusat, seperti ditulis pada Sabtu (6/6/2015).

Baca juga: Studi: Sering Dihukum Saat Berbohong, Anak Justru Makin Tidak Jujur
Dikatakan Kak Seto, kerusakan saraf otak tersebut dapat membuat anak menjadi ‎lebih lambat dalam menyerap pelajaran. Akibatnya, prestasinya di sekolah pun akan terganggu.

Selain itu, membentak anak juga dikatakan kak Seto akan memicu perilaku agresif. Anak akan menjadi lebih kasar karena terbiasa melihat orang tuanya berperilaku kasar.

"Selain memicu kebodohan, (membentak anak -red) juga akan memicu perilaku agresif, fight or flight. Entah dia fight, melawan kepada orang tua atau dia flight, diam dan akhirnya nggak mau ngapa-ngapain," tuturnya lagi.

Di kesempatan yang sama psikolog klinis Baby Jim Aditya mengatakan kata-kata, terutama yang diucapkan orang tua ke anak, memang mempunyai kekuatan. ‎Tak sedikit anak-anak yang menjadi korban kekerasan verbal tanpa disadari karena kata-kata yang diucapkan orang tua.

‎Oleh karena itu, psikolog yang juga ibu dari dua anak ini selalu mencoba mengucapkan kata-kata positif. Menurutnya kata-kata positif akan lebih bermanfaat untuk anak, daripada harus mendengar orang tuanya mengucapkan kata-kata negatif.

"Air yang diucapkan kata-kata baik saja berbentuk jadi kristal, sementara yang diucapkan kata-kata jelek jadi nggak bagus bentuknya. Apalagi manusia yang dua per tiga tubuhnya terdiri dari air," pungkasnya.



#SEFT
(Spiritual Emotional Freedom Technique)
Total Solusi
mengatasi masalah emosi dan fisik Anda

Informasi
Training, Terapi dan Konsultasi SEFT
Endang Swastyaskuningsih, MPd., SHT
0816 1928 845 / 2A31E6F1